Saturday, November 10, 2012

Ketika, aku untukmu tak seperti yang kau harapkan.

Aku ini, sebuah bulan yang katamu tak sempurna. Ya.. Aku memang tak sempurna dengan segala kekuranganku. Bulan memang tampak indah, terlebih ketika purnama. Dan yang ku tahu, purnama hanya datang sebulan sekali. Apakah aku hanya memiliki keindahan sebulan sekali untukmu? Separah itukah aku di masalalu? Tapi, kamu pernah memintaku untuk benar-benar memperhatikan bulan. Setelah itu, kamu berargumentasi bahwa "Seindah apapun bulan, tetap saja ia memiliki bintik-bintik hitam yang menyelimuti cahaya indahnya, bahkan ketika purnama sekalipun." Dan kamu mengatakan, aku seperti itu. Aku tak menyangkal. Memang benar, tak selamanya aku memiliki keindahan. Sering kali aku mengacuhkanmu dan itu merupakan salah satu bintik hitamku, katamu.
Dan sekarang, aku hanya sebuah lilin. Lilin yang hanya akan menerangi ketika listrik padam. Ya.. Hanya ketika listrik padam. Seperti saat ini, kamu hanya datang padaku ketika kamu benar-benar membutuhkanmu. Tidak seperti dahulu, aku yang selalu jadi kebutuhan utamamu. Seperti kebanyakan orang membutuhkan listrik sebagai kebutuhan utama mereka.
Aku dan kamu, hanya dua orang bocah. Ya, hanya bocah. Bocah yang mencoba mengenal cinta, Dan akhirnya terkalahkan oleh sesuatu hal bernama jarak.
Memang, aku nggak punya nyali buat ngerasain sakit hati(lagi). Aku masih sangat-sangat gak punya nyali buat memulai sesuatu yang baru, Aku gak punya nyali memulai yang baru dengan orang yang baru. Aku... Saat ini aku tak ingin memulai yang baru itu. Aku terlalu pengecut.
Kalaupun ada lagi, aku mau kisahku seperti kisah Yola. Orang yang nantinya akan bersamaku pergi karena dia memang harus pergi. Bukan untuk pergi bersama wanita lain, tapi karena memang waktunya telah usai. Aku mau orang yang berikutnya hadir dan maut yang akan memisahkan kamu, bukan keegoisan.